
ZIGChain Summit 2026 di Dubai menjadi titik balik ekosistem DeFi global dengan fokus pada produk investasi terregulasi untuk masyarakat umum. Bagaimana Indonesia bisa mengambil manfaat?
ZIGChain Summit 2026 yang digelar di The Meydan Hotel, Dubai pada 28 April lalu menandai babak baru dalam perkembangan keuangan terdesentralisasi (DeFi). Acara tahunan kedua ini menjadi ajang strategis bagi pelaku industri untuk mempercepat adopsi produk investasi berbasis blockchain yang terregulasi.
Sebagai blockchain yang khusus dirancang untuk investasi ritel, ZIGChain mencatat beberapa pencapaian penting: pertumbuhan TVL (Total Value Locked) mencapai $3,2 miliar, integrasi dengan 15 institusi keuangan tradisional, dan peluncuran SDK untuk pengembang lokal. "Ini tentang membawa aset dunia nyata ke dalam ekosistem onchain dengan cara yang compliant," jelas CTO ZIGChain dalam presentasi kuncinya.
📖 Baca Juga
Bagi investor Indonesia, perkembangan ini menawarkan tiga peluang konkret: (1) Akses ke produk investasi global dengan minimum deposit lebih rendah, (2) Pilihan staking yang di-backing aset riil, dan (3) Potensi kolaborasi dengan fintech lokal melalui API gateway yang baru diluncurkan.
WarungWeb3 mencatat, setidaknya tiga startup DeFi Indonesia sudah dalam tahap integrasi dengan jaringan ZIGChain. "Kami melihat potensi besar untuk produk syariah-compliant dan mikro-investasi berbasis rupiah," ungkap salah satu founder yang enggan disebutkan namanya.
Meski demikian, pakar mengingatkan pentingnya due diligence sebelum berpartisipasi dalam proyek onchain. Regulasi di Indonesia masih perlu adaptasi dengan perkembangan terbaru DeFi global, sementara edukasi tentang risk management tetap menjadi tantangan utama.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.