
Kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz menjadi sasaran scammer yang meminta pembayaran Bitcoin atau USDT untuk 'jaminan' kelancaran pelayaran.
Kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz kini menghadapi ancaman baru: scammer yang memanfaatkan situasi krisis untuk mengeruk keuntungan ilegal. Menurut laporan dari Marisks, perusahaan manajemen risiko maritim, para scammer ini berpura-pura sebagai otoritas Iran dan meminta pembayaran dalam bentuk Bitcoin atau USDT sebagai syarat untuk mendapatkan 'jalan aman'.
Insiden ini terjadi di tengah blokade yang membatasi pergerakan kapal di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Para scammer mengirim pesan ke kapal-kapal yang terjebak, menawarkan 'jaminan' kelancaran pelayaran dengan imbalan pembayaran crypto. Meski belum ada laporan resmi tentang kerugian finansial, setidaknya satu kapal dikabarkan telah menjadi korban.
📖 Baca Juga
Marisks memperingatkan perusahaan pelayaran untuk waspada terhadap modus operandi ini. Scammer biasanya menggunakan komunikasi elektronik seperti email atau pesan radio untuk mengelabui korban. Mereka meminta pembayaran ke dompet crypto tertentu, yang kemudian sulit dilacak setelah transaksi selesai.
Kasus ini menegaskan kembali risiko penggunaan crypto dalam transaksi ilegal atau penipuan. Meskipun teknologi blockchain menawarkan transparansi dan keamanan, dalam praktiknya, crypto tetap rentan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Peningkatan literasi digital dan keamanan cyber menjadi kunci untuk menghadapi ancaman semacam ini.
Ke depan, kolaborasi antara otoritas maritim, perusahaan pelayaran, dan komunitas crypto diperlukan untuk meminimalisir risiko serupa. Edukasi tentang penggunaan crypto yang aman dan peningkatan pengawasan di wilayah-wilayah rawan seperti Selat Hormuz juga menjadi langkah penting untuk melindungi industri maritim dari ancaman scammer.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.