
Serangan canggih pada Kelp, platform restaking berbasis EigenLayer, memicu kerugian $293 juta dan efek domino di sembilan protokol DeFi lainnya.
Gempar di dunia DeFi! Kelp, platform restaking berbasis EigenLayer yang sedang naik daun, menjadi korban eksploitasi canggih dengan kerugian mencapai $293 juta (Rp4,7 triliun). Menurut analisis Cyvers, blockchain security firm, serangan ini memicu efek domino yang menjalar ke setidaknya sembilan protokol kripto lainnya.
Insiden ini terjadi melalui mekanisme 'cross-protocol contagion' - fenomena unik di ekosistem DeFi dimana kerentanan satu platform dapat menginfeksi protokol lain yang terhubung. Pelaku diduga memanfaatkan celah dalam smart contract Kelp untuk melakukan serangan flash loan yang rumit, menguras dana pengguna dalam hitungan jam.
📖 Baca Juga
Yang membuat kasus ini istimewa adalah posisi Kelp sebagai pionir restaking - praktik mengalokasikan kembali aset yang sudah di-stake untuk meningkatkan imbal hasil. "Ini alarm bagi proyek DeFi untuk memperketat audit smart contract, terutama yang melibatkan komposabilitas antar-protokol," jelas Andika Putra, analis blockchain WarungWeb3.
Efek domino terasa hingga ke protokol lending dan yield farming terkemuka. Beberapa platform terpaksa menghentikan sementara layanan untuk mencegah kerugian lebih jauh. Harga token EigenLayer sendiri anjlok 18% dalam 24 jam pasca-insiden.
Kasus Kelp kembali mengingatkan komunitas kripto Indonesia akan pentingnya due diligence sebelum berinvestasi di proyek DeFi, terutama yang menawarkan imbal hasil tinggi. Para ahli menyarankan diversifikasi aset dan penggunaan wallet terpisah untuk aktivitas restaking.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.