
CEO Eco ungkap masalah fragmentasi liquiditas stablecoin yang mengancam efisiensi pasar DeFi global, termasuk Indonesia.
Liquiditas stablecoin yang terpecah-pecah di berbagai jaringan blockchain mulai menimbulkan masalah serius bagi pelaku DeFi, terutama untuk transaksi besar. Ryne Saxe, CEO Eco, memperingatkan bahwa kondisi ini mirip dengan pasar valas dimana pergerakan dolar digital tak lagi seamless.
"Transfer stablecoin antar-chain kini membutuhkan eksekusi kompleks layaknya forex," ujar Saxe dalam wawancara eksklusif. Problem ini semakin krusial bagi Indonesia yang pertumbuhan DeFi-nya mencapai 217% tahun lalu menurut DeFiLlama.
📖 Baca Juga
Pakar lokal mencatat tiga dampak langsung: (1) Biaya swap USDT/USDC melonjak 30-50% di platform aggregator, (2) Arbitrase antar-chain jadi kurang efisien, dan (3) Risiko slippage meningkat untuk transaksi di atas $50,000.
Solusi sementara yang muncul termasuk penggunaan bridge khusus seperti LayerZero dan Stargate. Namun komunitas Web3 Indonesia perlu waspada terhadap risiko smart contract yang menyertainya.
Kedepannya, integrasi oracle cross-chain dan standarisasi penerbitan stablecoin mungkin menjadi kunci - sebuah peluang bagi developer lokal untuk berkontribusi pada infrastruktur global.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.