
Perusahaan Bitcoin treasury Nakamoto melakukan strategi reverse stock split setelah nilai sahamnya anjlok hingga 99%. Apa dampaknya bagi pasar crypto lokal?
Nakamoto, perusahaan Bitcoin treasury yang sempat menjadi sorotan, kini menghadapi tantangan serius. Setelah nilai sahamnya merosot hingga 99% dari puncaknya di atas $25 pada Mei tahun lalu, perusahaan ini memutuskan untuk melakukan reverse stock split dengan rasio 1:40. Langkah ini diambil agar harga sahamnya kembali mencapai minimal $1, syarat untuk tetap terdaftar di Nasdaq.
Reverse stock split sendiri adalah strategi perusahaan untuk mengurangi jumlah saham yang beredar dengan tujuan meningkatkan harga per saham. Meskipun tidak mengubah nilai fundamental perusahaan, langkah ini sering dianggap sebagai upaya terakhir untuk menghindari delisting dari bursa. Dalam kasus Nakamoto, strategi ini diharapkan dapat memulihkan kepercayaan investor dan menjaga kepatuhan terhadap aturan bursa.
📖 Baca Juga
Di sisi lain, Nakamoto juga menghadapi perubahan kepemilikan. SoftBank, perusahaan investasi asal Jepang yang sebelumnya menanamkan modal hampir $1 miliar, telah dibeli oleh Tether. Langkah ini memperkuat posisi Tether dalam mengendalikan perusahaan Bitcoin treasury tersebut. Dengan kepemilikan yang semakin terkonsentrasi, masa depan Nakamoto kini semakin bergantung pada keputusan strategis Tether.
Bagi pasar crypto Indonesia, situasi Nakamoto bisa menjadi pelajaran berharga. Meskipun perusahaan ini beroperasi di luar negeri, dinamika yang terjadi mencerminkan risiko tinggi dalam investasi terkait Bitcoin dan aset crypto lainnya. Investor lokal perlu lebih bijak dalam memilih instrumen investasi, terutama yang terkait dengan perusahaan treasury crypto yang masih dalam tahap eksperimental.
Ke depan, nasib Nakamoto akan menjadi penanda penting bagi industri Bitcoin treasury. Apakah strategi reverse stock split dan penguatan kepemilikan oleh Tether dapat membawa perusahaan ini kembali ke jalur pertumbuhan? Ataukah ini hanya menjadi babak akhir dari sebuah eksperimen yang gagal? Jawabannya akan menentukan tidak hanya masa depan Nakamoto, tetapi juga kepercayaan global terhadap model bisnis Bitcoin treasury.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.