
Platform crypto seperti Hyperliquid dan Kalshi tak cuma berebut dominasi di trading aset digital, tapi juga memicu perang lobi sengit di Washington terkait masa depan prediction markets.
Dunia crypto kembali memantik pertarungan sengit di lantai bursa dan lorong-lorong kekuasaan Washington. Dua nama mencuat: Hyperliquid yang melebarkan sayap ke pasar pre-IPO dan kontrak prediksi, serta Kalshi yang membentuk kelompok lobi 'Americans for Fair Markets' dengan mantan pejabat era Trump.
Menurut laporan CoinDesk, Hyperliquid kini menjadi ancaman serius bagi bursa tradisional setelah berekspansi ke perdagangan aset 24/7 dan instrumen derivatif. Platform berbasis blockchain ini disebut-sebut sedang 'membidik pasar modal konvensional' dengan efisiensi teknologi DeFi.
đź“– Baca Juga
Di sisi lain, Kalshi—platform prediksi pasar asal AS—memilih jalur politik. Mereka merekrut John Bivona, mantan pejabat hubungan pemerintah, untuk melobi regulasi yang lebih ramah. "Kami tak akan kalah dari monopoli industri lama," tegas Bivona seperti dikutip CoinTelegraph.
Pertarungan ini makin panas setelah New York Times mengungkap skandal di CFTC (badan pengawas komoditas AS), di mana pejabat yang mengkritik operasi prediction markets seperti Polymarket justru disingkirkan. Sementara itu, Kalshi terus memperkuat posisi dengan menggandeng konglomerat crypto seperti Gemini dan Crypto.com dalam koalisinya.
Analis WarungWeb3 melihat ini sebagai babak baru konflik antara fintech tradisional vs disruptor crypto. "Yang menarik, kedua belah pihak sama-sama menggunakan taktik Wall Street: ekspansi produk dan lobi politik. Bedanya, mereka memakai senjata Web3," pungkas tim riset kami.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.