
HYPE memperkenalkan model valuasi berbasis buyback dan arus kas Onchain, menandai evolusi baru dalam penilaian aset kripto.
Dalam perkembangan terbaru di dunia Web3, model valuasi tradisional mulai tergeser oleh pendekatan yang lebih dinamis. HYPE, sebuah proyek kripto, kini menggunakan kombinasi buyback pendapatan, data arus kas Onchain, dan model gaya ekuitas untuk menilai aset digital mereka. Metode ini dianggap lebih transparan dan akurat dibandingkan model supply-centric yang umum digunakan sebelumnya.
Menurut laporan Allium Research, HYPE telah melakukan buyback token senilai $591 juta secara annualized. Angka ini didasarkan pada pendapatan riil yang dilaporkan serta arus kas yang dapat diverifikasi secara Onchain. Pendekatan ini mirip dengan praktik di pasar ekuitas tradisional, di mana buyback saham sering menjadi indikator kesehatan keuangan perusahaan.
📖 Baca Juga
Perkembangan ini terjadi bersamaan dengan pertumbuhan pasar tokenized equities yang hampir mencapai kapitalisasi $1 miliar. Analis melihat ini sebagai tanda matangnya industri kripto, di mana proyek-proyek mulai mengadopsi praktik keuangan yang lebih sophisticated. "Ini bukan lagi soal hype atau spekulasi," kata seorang peneliti Web3 lokal. "Kita melihat fondasi ekonomi nyata yang dibangun di atas blockchain."
Bagi investor Indonesia, model valuasi baru ini menawarkan perspektif segar dalam menilai proyek kripto. Dengan transparansi Onchain, investor bisa memverifikasi klaim keuangan secara langsung, mengurangi ketergantungan pada whitepaper atau janji tim. Namun, para ahli tetap menyarankan due diligence menyeluruh sebelum berinvestasi.
Ke depan, inovasi valuasi seperti ini diperkirakan akan semakin banyak diadopsi. Seiring dengan regulasi yang semakin jelas, pendekatan berbasis fundamental mungkin menjadi standar baru dalam menilai aset digital, membawa industri kripto lebih dekat ke dunia keuangan tradisional.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.