
Eksploitasi Kelp DAO memicu bad debt $200 juta di Aave dan penarikan dana besar-besaran, memperlihatkan kerentanan ekosistem DeFi.
Gempa mengguncang dunia DeFi setelah Kelp DAO, platform restaking berbasis LayerZero, dieksploitasi hingga kehilangan $293 juta (Rp4,7 triliun) dalam 46 menit. Serangan yang terjadi Sabtu (18/4) ini memicu efek domino ke Aave, salah satu protokol lending terbesar, dengan bad debt mencapai $200 juta dan penurunan TVL $8 miliar dalam sehari.
Menurut analisis The Defiant, pelaku memanfaatkan celah di bridge cross-chain Kelp DAO untuk mencairkan 116.500 rsETH (setara 18% total supply) tanpa kolateral. Dana kemudian dipindahkan via Tornado Cash, mixer crypto yang kerap dipakai untuk pencucian aset digital. "Ini eksploitasi terbesar DeFi tahun 2024," tulis blockchain security firm Cyvers.
📖 Baca Juga
Aave sebagai korban tidak langsung mengalami guncangan hebat. Token AAVE anjlok 16-20% dalam 24 jam, sementara pengguna menarik dana $6 miliar dari protokol. CoinDesk menyoroti risiko struktural: attacker menggunakan rsETH hasil eksploitasi sebagai jaminan pinjaman wrapped ether di Aave, meninggalkan bad debt yang belum terkuantifikasi.
Insiden ini memperlihatkan kerentanan ekosistem DeFi yang saling terhubung. WarungWeb3 mencatat setidaknya 9 protokol lain terdampak efek domino, termasuk beberapa platform staking lokal. "DeFi Indonesia perlu belajar dari kasus ini," kata salah satu developer anonim. "Risk management dan audit cross-protocol harus jadi prioritas."
Outlook: Komunitas tengah mengkaji mekanisme asuransi DeFi dan batasan penggunaan bridge cross-chain. Sementara itu, Aave diperkirakan akan melakukan governance vote untuk menanggulangi bad debt dalam minggu ini.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.