
IMF mengingatkan Nepal untuk waspadai penggunaan crypto yang meningkat, sementara Bitcoin menunjukkan ketahanan di tengah inflasi AS tertinggi dalam 3 tahun.
Dana Moneter Internasional (IMF) kembali menyoroti risiko adopsi cryptocurrency di negara-negara berkembang, kali ini memperingatkan Nepal untuk meningkatkan pengawasan meskipun ada larangan resmi. Peringatan ini muncul bersamaan dengan rebound Bitcoin yang menembus level resistensi teknikal, meski inflasi AS mencapai level tertinggi dalam tiga tahun.
IMF mencatat peningkatan penggunaan crypto di Nepal meski dilarang sejak 2021, mencerminkan tren serupa di negara berkembang lain. Sebelumnya, IMF juga berselisih dengan El Salvador soal akumulasi Bitcoin sebagai aset negara. "Ini menunjukkan ketahanan crypto sebagai alternatif sistem keuangan tradisional di ekonomi yang kurang stabil," kata analis WarungWeb3.
📖 Baca Juga
Di sisi lain, Bitcoin menunjukkan performa menarik dengan rebound 15% dari level terendah Juni, meski menghadapi tekanan inflasi AS yang mencapai 3.3% - tertinggi sejak 2021. Beberapa analis memprediksi koreksi di bawah $60.000, tapi rebound terakhir mengindikasikan kekuatan permintaan di level saat ini.
"Inflasi tinggi biasanya menjadi sinyal bearish untuk aset risiko, tapi respon Bitcoin kali ini berbeda," tambah analis kami. "Ini mungkin mencerminkan matangnya pasar crypto yang mulai dipandang sebagai hedge inflasi, mirip emas digital."
Ke depan, pasar akan mengamati dua faktor kunci: respons regulator global terhadap warning IMF, dan kemampuan Bitcoin mempertahankan level support di atas $60.000. Untuk investor Indonesia, fluktuasi ini menawarkan peluang trading sekaligus mengingatkan pentingnya manajemen risiko di pasar yang tetap volatil.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.