
Regulator AS menyetujui kontrak perpetual futures berbasis Bitcoin pertama di platform Kalshi, membuka era baru perdagangan crypto non-stop. Bagaimana peluang dan risikonya bagi trader lokal?
Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) membuat terobosan signifikan dengan menyetujui kontrak perpetual futures crypto pertama yang diatur di AS melalui platform Kalshi. Keputusan ini disertai panduan perdagangan 24/7 dan pengecualian khusus untuk Coinbase, menandai babak baru regulasi derivatif crypto.
Produk perpetual futures Bitcoin di Kalshi menjadi yang pertama mendapat lampu hijau regulator setelah bertahun-tahun trader AS mengandalkan platform offshore. CFTC juga mengeluarkan interpretasi 'no-action' untuk Coinbase, menunjukkan pendekatan lebih fleksibel terhadap inovasi crypto di bawah payung hukum yang jelas.
๐ Baca Juga
Bagi investor Indonesia, perkembangan ini membawa dua implikasi utama: Pertama, legitimasi aset crypto semakin kuat dengan pengawasan regulator AS. Kedua, arus perdagangan global mungkin bergeser dari platform tak teregulasi ke venue resmi seperti Kalshi, yang bisa mempengaruhi likuiditas di exchange lokal.
"Ini momentum penting bagi industri," kata Andi Wijaya, analis crypto WarungWeb3. "Tapi trader RI perlu pahami risiko perpetual futures โ terutama leverage tinggi dan funding rate yang bisa 'menggerus' profit jangka panjang."
Dengan jam perdagangan non-stop dan pengawasan ketat CFTC, produk ini berpotensi menarik minat institusi. Namun bagi retail investor, edukasi tentang mekanisme perpetual contracts tetap menjadi kunci sebelum terjun ke pasar derivatif yang lebih kompleks ini.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI โ Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.