
Bitcoin sempat sentuh $80.000 sebelum terkoreksi akibat aksi profit-taking dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Bagaimana prospeknya untuk investor Indonesia?
Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan volatilitasnya setelah hampir menembus level psikologis $80.000 pada Kamis (27/4/2026). Aset kripto terbesar itu akhirnya terkoreksi ke kisaran $77.955 (-1.1% dalam 24 jam) karena kombinasi aksi profit-taking trader dan eskalasi ketegangan di Teluk Persia, menurut data CoinGecko.
Rilis berita dari CoinDesk dan The Defiant mengungkapkan bahwa kenaikan Bitcoin selama 12 minggu terakhir—didorong oleh masuknya modal institusional—akhirnya menghadapi 'dinding penjual' di kisaran $79.400-$80.000. Analis menyebut koreksi ini bersifat sementara, terutama jika konflik Iran tidak meluas. "Ini adalah koreksi sehat setelah rally mingguan," jelas laporan CoinDesk.
đź“– Baca Juga
Faktor geopolitik menjadi katalis utama penurunan. The Defiant melaporkan bahwa pasar kripto global bereaksi terhadap meningkatnya risiko di Teluk Persia, meski tekanan tersebut sebagian diimbangi oleh minat kuat investor institusi. Ether (ETH) ikut terseret turun 2.8% ke $2.331, mengubah kinerja mingguannya menjadi negatif.
Bagi investor Indonesia, fluktuasi ini menawarkan peluang sekaligus tantangan. Pakar WarungWeb3 mencatat bahwa koreksi harga bisa menjadi pintu masuk bagi akumulasi jangka panjang, mengingat tren bulanan Bitcoin masih positif (+9.9%). Namun, mereka mengingatkan untuk memantau perkembangan geopolitik dan kebijakan regulator lokal terkait aset kripto.
Outlook ke depan, pasar mungkin akan tetap bergerak sideways dalam waktu dekat hingga ketidakpastian geopolitik mereda. Namun, breakout di atas $80.000 bisa membuka jalan menuju rekor baru, terutama jika dukungan institusional terus mengalir.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.