
Harga Bitcoin berfluktuasi tajam seiring ketegangan geopolitik di Selat Hormuz dan laporan inflasi AS yang lebih panas dari ekspektasi.
Pasar kripto mengalami volatilitas tinggi pekan ini sebagai respons terhadap dua faktor utama: eskalasi ketegangan di Timur Tengah menyusul blokade Selat Hormuz dan rilis data Consumer Price Index (CPI) AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Bitcoin (BTC) sempat menyentuh level terendah $70.600 sebelum rebound ke atas $73.000, mencerminkan ketidakpastian pasar.
Menurut laporan CoinDesk, kenaikan harga minyak mentah di atas $100 per barel turut memicu aksi jual aset risiko seperti kripto. Trader beralih ke instrumen derivatif defensif menyusul pernyataan keras Presiden AS Donald Trump mengenai program nuklir Iran, seperti dilaporkan CoinTelegraph. Situasi geopolitik ini menciptakan tekanan jangka pendek pada aset digital.
📖 Baca Juga
Namun The Defiant mencatat rebound signifikan BTC ke $73.000 (+9.4% mingguan) setelah pasar mencerna kombinasi data inflasi AS dan gencatan senjata AS-Iran yang rapuh. Ethereum (ETH) mengikuti dengan kenaikan 10% mingguan, sementara Solana (SOL) dan XRP juga catatkan keuntungan. Bittensor (TAO) jadi underperformer utama dengan penurunan 21% setelah kontroversi internal.
Analis WarungWeb3 melihat tiga pelajaran penting: (1) Kripto semakin terkorelasi dengan geopolitik dan komoditas, (2) Trader Indonesia perlu memantau CPI AS dan harga minyak sebagai indikator baru, (3) Volatilitas tinggi membuka peluang trading bagi investor berpengalaman. Kedepan, pasar mungkin tetap fluktuatif hingga ketegangan Timur Tengah mereda.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.