
Bank of England mempertimbangkan pelonggaran regulasi stablecoin setelah kritik keras dari industri crypto. Langkah ini bisa menentukan daya saing stablecoin GBP melawan rival berbasis dolar AS.
Bank of England (BoE) dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk melunakkan aturan ketat terkait stablecoin setelah mendapat tekanan dari industri crypto. Menurut laporan Financial Times, regulator Inggris ini siap merevisi proposal yang sebelumnya dinilai "terlalu konservatif" oleh pelaku pasar.
Rancangan aturan awal BoE mencakup pembatasan ketat pada penerbitan stablecoin dan persyaratan cadangan yang tinggi. Kebijakan ini menuai protes karena dikhawatirkan akan membuat Inggris kalah bersaing dalam ekonomi digital. "Kami tidak memilih pemenang antara tokenized deposits dan stablecoin," tegas Sasha Mills, eksekutif BoE, menegaskan pendekatan netral bank sentral.
📖 Baca Juga
Peluang pelonggaran aturan ini muncul di saat aktivitas tokenisasi aset tradisional semakin marak. Dua raksasa keuangan, JPMorgan dan BlackRock, baru-baru ini mengajukan produk baru terkait stablecoin dan tokenisasi. JPMorgan meluncurkan money market fund khusus untuk penerbit stablecoin, sementara BlackRock memperluas portofolio tokenized fund-nya setelah kesuksesan BUIDL yang kini bernilai $2.3 miliar.
Analis WarungWeb3 melihat perkembangan ini sebagai pertanda matangnya ekosistem aset digital. "Regulator mulai menyadari stablecoin sebagai bentuk uang baru, sementara institusi keuangan tradisional semakin serius mengadopsi teknologi blockchain," jelas narasumber kami. Pelonggaran aturan di Inggris bisa menjadi preseden bagi regulator lain, termasuk Indonesia, dalam menyikapi stablecoin.
Nasib stablecoin berbasis GBP kini tergantung pada keputusan BoE. Jika aturan yang lebih fleksibel diterapkan, stablecoin GBP mungkin bisa lebih kompetitif melawan dominasi stablecoin berbasis dolar AS seperti USDT dan USDC yang saat ini menguasai pasar.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.