
Perusahaan Bitcoin asal Jepang, Metaplanet, mencatat kerugian besar di Q1 2024 sambil menunda peluncuran saham preferen akibat tantangan regulasi dan infrastruktur.
Metaplanet, perusahaan investasi Bitcoin yang berbasis di Tokyo, dilaporkan mengalami kerugian bersih mencapai $725 juta pada kuartal pertama 2024. Kerugian ini terjadi meskipun perusahaan lain di industri yang sama, seperti Nakamoto, mencatat pertumbuhan pendapatan enam kali lipat. CEO Metaplanet, Simon Gerovich, mengakui bahwa saham preferen yang diumumkan November lalu belum bisa diluncurkan karena kendala struktural di pasar Jepang.
Dalam wawancara dengan Decrypt, Gerovich menyebut tantangan regulasi dan infrastruktur sebagai penyebab utama penundaan. "Pasar Jepang memiliki kerangka hukum yang unik untuk aset kripto, dan kami perlu memastikan semua persyaratan terpenuhi," ujarnya. CoinDesk juga melaporkan bahwa Metaplanet kesulitan mencari mitra infrastruktur yang memadai untuk mendukung penerbitan saham preferen perpetual mereka.
📖 Baca Juga
Sementara itu, kompetitor seperti Nakamoto justru menunjukkan kinerja positif. CEO Nakamoto, David Bailey, mengungkapkan fokus perusahaan pada pengembangan layanan treasury Bitcoin dan strategi trading untuk menghadapi volatilitas pasar. "Tahun 2026 akan menjadi periode ekspansi bagi kami," tegas Bailey dalam laporannya di CoinTelegraph.
Analis industri memprediksi bahwa penundaan ini bisa memengaruhi kepercayaan investor terhadap Metaplanet, terutama di tengah persaingan ketat dengan perusahaan Bitcoin lainnya. Namun, Gerovich menegaskan bahwa perusahaan tetap berkomitmen untuk melanjutkan proyek saham preferen begitu kondisi memungkinkan. "Kami tidak menyerah, hanya menyesuaikan waktu peluncuran dengan realitas pasar," pungkasnya.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.