
Platform trading DeFi Wasabi Protocol jadi korban eksploitasi multi-chain senilai $5 juta akibat celah keamanan kunci admin tanpa proteksi.
Wasabi Protocol, platform trading perpetual dan leveraged berbasis DeFi, menjadi korban serangan exploit yang menguras dana mencapai $5 juta melintasi empat blockchain sekaligus. Insiden ini terdeteksi pertama kali oleh firma keamanan CertiK Kamis (08:30 UTC), dengan modus operandi mirip kasus Drift Protocol yang rugi $285 juta awal bulan ini.
Analisis CoinDesk mengungkapkan pelaku memanfaatkan kunci deployer (admin) yang tidak dilindungi timelock atau multisig. Celah ini memungkinkan penyerang mengakses langsung dompet protokol dan mengalirkan aset dalam jumlah besar ke alamat tak dikenal. "Ini klasiknya human error di sisi pengembangan," komentar salah satu analis blockchain yang enggan disebutkan namanya.
📖 Baca Juga
Dari total kerugian, sekitar $4.5 juta diambil dari Ethereum dan layer-2 Base, sementara sisanya berasal dari Blast dan Berachain. Wasabi Protocol dikenal sebagai platform derivatif crypto dengan fitur leveraged trading hingga 50x, yang baru saja meluncurkan token WASABI bulan lalu.
Komunitas crypto Indonesia di Twitter ramai membahas insiden ini, dengan banyak pengguna mengkritik proyek DeFi yang masih mengabaikan praktik keamanan dasar. "Harusnya jadi alarm buat proyek lokal untuk pakai multisig dan audit ketat," tulis @CryptoNinjaID. Sampai berita ini diturunkan, tim Wasabi belum memberikan pernyataan resmi mengenai rencana kompensasi bagi korban.
Kasus ini mempertegas risiko sistemik di ekosistem DeFi, terutama proyek baru yang fokus pada fitur canggih tapi abai terhadap infrastruktur keamanan. Para ahli memprediksi gelombang exploit akan terus meningkat seiring maraknya proyek dengan kode minim audit di bull market 2024.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.