
Preferred stock STRC milik Strategy terus merosot ke level terendah sepanjang masa, memicu kekhawatiran di kalangan investor retail yang tergiur imbal hasil tinggi.
Preferred stock STRC milik Strategy, salah satu perusahaan pemegang Bitcoin terbesar di dunia, terus mencatatkan rekor terendah baru. Aset ini menjadi saluran pendanaan utama Strategy untuk akumulasi Bitcoin, namun kini diperdagangkan di sekitar $85 setelah penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Analis menyoroti bahwa penurunan STRC belum menjadi ancaman eksistensial bagi Strategy, namun volatilitasnya telah mengguncang kepercayaan investor retail. Banyak pemain kecil yang sebelumnya tergiur imbal hasil (yield) dua digit dari instrumen ini kini menghadapi kerugian signifikan.
📖 Baca Juga
STRC (Variable Rate Series A Perpetual Stretch Preferred Stock) merupakan bagian dari strategi pendanaan kompleks Strategy untuk membeli Bitcoin lebih banyak. Diskonto yang semakin dalam ini berpotensi mempersempit kapasitas pendanaan perusahaan, meski belum mengganggu posisi Bitcoin mereka yang mencapai puluhan miliar dolar.
Para pakar di WarungWeb3 melihat fenomena ini sebagai peringatan bagi investor crypto Indonesia yang kerap mengejar yield tinggi tanpa memahami risikonya. "Ini contoh klasik high risk-high return di ekosistem crypto. Retail investor harus benar-benar paham mekanisme produk sebelum berinvestasi," jelas salah satu analis.
Ke depan, pergerakan STRC akan terus dipantau sebagai indikator kesehatan strategi pendanaan Strategy. Jika tekanan jual berlanjut, perusahaan mungkin perlu mencari alternatif pendanaan lain untuk operasi akumulasi Bitcoin mereka.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.