
On-chain investigator adalah profesi baru yang muncul seiring berkembangnya ekosistem kripto. Mereka melacak transaksi blockchain untuk mengungkap aktivitas mencurigakan.
Di balik hiruk-pikuk pasar kripto dan DeFi, muncul profesi baru yang tak kalah menarik: on-chain investigator. Para detektif digital ini bertugas melacak pergerakan aset kripto di blockchain untuk mengungkap aktivitas mencurigakan, mulai dari pencucian uang hingga pencurian aset digital.
On-chain investigator menggabungkan keahlian analisis blockchain, intelijen sumber terbuka, dan investigasi keuangan. Mereka mempelajari pola transaksi, interaksi antar wallet, dan jejak digital lainnya yang tersimpan secara permanen di blockchain. "Ini bukan sekadar mencari 'wallet jahat', tapi memahami keseluruhan narasi di balik aliran dana," jelas Gianluca Longinotti, pakar keamanan kripto.
📖 Baca Juga
Di Indonesia, kebutuhan akan profesi ini mulai terasa seiring maraknya kasus penipuan investasi kripto dan serangan ke platform DeFi lokal. Kemampuan untuk melacak aset yang dicuri menjadi krusial, mengingat sifat blockchain yang transparan namun pseudonim.
Untuk menjadi on-chain investigator, seseorang perlu menguasai tools seperti Etherscan, Dune Analytics, dan TRM Labs. Pemahaman mendalam tentang smart contract, mixing services, dan teknik money laundering di dunia kripto juga wajib dikuasai. Yang tak kalah penting adalah kemampuan komunikasi untuk menyajikan temuan secara jelas kepada pihak berwenang.
Dengan semakin kompleksnya ekosistem Web3, profesi on-chain investigator diprediksi akan semakin dibutuhkan. Ini membuka peluang baru bagi talenta digital Indonesia untuk berkontribusi membangun ekosistem kripto yang lebih aman dan transparan.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.