
John Oliver bahas manipulasi pasar prediksi, sementara geopolitik dorong Bitcoin tembus $78.000 setelah Selat Hormuz dibuka penuh.
Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali jadi katalis bagi pasar kripto. Bitcoin (BTC) menembus $78.000 setelah Iran menyatakan Selat Hormuz โ jalur strategis pengiriman minyak global โ dibuka penuh, memicu optimisme di kalangan trader. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan analisis John Oliver di HBO tentang risiko manipulasi di pasar prediksi, yang kini jadi sorotan akibat ketegangan regional.
Menurut data CoinGecko, BTC menguat 3.7% dalam 24 jam dan 5.8% mingguan, meski masih 39% di bawah rekor tertingginya Oktober 2025 ($126.198). Ether (ETH) juga ikut meroket 4.1% dalam sehari. Pasar prediksi seperti Polymarket menunjukkan spekulasi bahwa gangguan di Selat Hormuz akan berlanjut, mempengaruhi harga minyak dan aset digital.
๐ Baca Juga
Oliver dalam segmen 'Last Week Tonight' mengkritik kurangnya regulasi di platform prediksi berbasis blockchain. "Mekanisme oracle dan insentif staking bisa dimanipulasi untuk mempengaruhi hasil pasar," katanya. Ini relevan dengan situasi Selat Hormuz, di mana kontrak derivatif minyak dan prediksi geopolitik di-chain saling terkait.
Analis WarungWeb3 mencatat, rebound Bitcoin tidak lepas dari faktor teknikal: liquidasi short $420 juta di derivatif dan akumulasi oleh whale. Namun, sentimen tetap dipengaruhi geopolitik. "Pasar kripto semakin sensitif terhadap risiko global, terutama yang terkait energi," jelasnya. Dengan 21% minyak dunia melewati Selat Hormuz, resolusi konflik ini jadi kunci stabilitas harga aset digital.
Outlook: Pemulihan BTC di $78.000 bisa terkoreksi jika ketegangan Iran-AS kembali memanas. Pantau perkembangan di-chain (aliran dana exchange) dan data inflasi minyak untuk proyeksi jangka menengah.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI โ Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.