
Platform prediction market seperti Kalshi dan Polymarket menghadapi ujian berat terkait praktik insider trading, sementara volume trading justru mencatat rekor.
Prediction market yang memungkinkan pengguna bertaruh pada hasil peristiwa dunia nyata—dari hasil Piala Dunia hingga pemilu—kini menjadi sorotan akibat maraknya kasus insider trading. Kalshi, salah satu platform terkemuka, baru saja menerapkan aturan ketat yang mewajibkan trader mengungkapkan identitas perusahaan tempat mereka bekerja sebelum bertransaksi di pasar berisiko tinggi. Langkah ini diambil menyusul temuan praktik perdagangan orang dalam yang diduga memanipulasi pasar.
Menurut peneliti Balbinder Singh Gill, larangan total terhadap insider trading justru bisa mengurangi akurasi prediksi. "Praktik yang sama yang meningkatkan akurasi harga hari ini bisa mengurangi partisipasi yang membuat harga informatif besok," ujarnya dalam wawancara dengan CoinTelegraph. Pandangan ini memicu perdebatan sengit di komunitas crypto tentang sejauh mana regulasi diperlukan.
đź“– Baca Juga
Sementara itu, Polymarket mencatatkan volume trading fantastis mencapai $1.8 miliar untuk pasar prediksi Piala Dunia 2026, dengan Prancis dan Spanyol sebagai favorit utama. Pencapaian ini ternoda oleh kasus hukum pertama terkait insider trading di prediction market yang menjerat tentara AS. Kasus yang dijadwalkan mulai persidangan Desember ini menjadi ujian penting bagi masa depan industri.
Di tengah pertumbuhan pesat, prediction market juga menghadapi tekanan dari Badan Perlindungan Konsumen (BBB) yang meminta keterbukaan lebih besar dalam praktik periklanan berbasis influencer. Transparansi menjadi kata kunci bagi sustainability industri ini—terutama di Indonesia yang pasar cryptonya sedang panas namun rentan terhadap manipulasi.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.