
Polymarket berambisi masuk Jepang dengan tim baru, tapi justru dipaksa tutup di India. Bagaimana platform prediksi crypto ini bertahan di tengah tekanan regulator global?
Polymarket, platform prediksi berbasis crypto, sedang merancang strategi ambisius untuk ekspansi ke Jepang meski menghadapi tantangan regulasi yang kompleks. Langkah ini diambil bersamaan dengan penutupan paksa operasinya di India, mencerminkan dinamika kerasnya lanskap regulasi sektor Web3 global.
Berdasarkan laporan CoinTelegraph dan Decrypt, Polymarket telah merekrut Mike Eidlin, mantan eksekutif Jupiter Exchange, untuk memimpin penetrasi pasar Jepang. Target mereka adalah mendapatkan izin operasi sebelum 2030, meski harus berhadapan dengan hukum perjudian ketat di Negeri Sakura. "Ini bukan sekadar ekspansi bisnis, tapi uji ketahanan model prediksi pasar di yurisdiksi dengan regulasi tersketrik," jelas seorang analis WarungWeb3.
📖 Baca Juga
Sementara itu di India, Polymarket justru terpaksa menghentikan layanannya secara diam-diam menyusul tekanan regulator setempat. CoinDesk melaporkan platform kompetitor seperti Kalshi mungkin menjadi sasaran berikutnya. Pemerintah India secara konsisten memblokir layanan prediksi yang dianggap berpotensi spekulatif.
Langkah ekspansi ke Jepang ini terjadi di tengah tren negatif industri crypto. CoinTelegraph mencatat 5 perusahaan crypto termasuk Fantasy.top dan Everclear telah gulung tikar pekan ini. Polymarket tampaknya memilih strategi "quality over quantity" dengan fokus pada pasar bernilai tinggi seperti Jepang, ketimbang mempertahankan operasi di negara dengan risiko regulasi tinggi.
Para pengamat memprediksi 2024-2030 akan menjadi periode krusial bagi platform prediksi crypto. Keberhasilan Polymarket di Jepang bisa membuka jalan bagi adopsi model serupa di Asia, sementara kegagalan mungkin mempercepat gelombang pelarangan di lebih banyak negara.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.