
Harga Bitcoin meroket di tengah optimisme kesepakatan AS-Iran, namun trader waspada akan potensi koreksi seperti sebelumnya.
Bitcoin (BTC) mencatat kenaikan signifikan menembus $66.000 menyusul pengumuman kesepakatan AS-Iran yang diumumkan mantan Presiden Donald Trump. Reli kripto ini terjadi bersamaan dengan meredanya ketegangan di Timur Tengah, meski pasar tetap waspada mengingat dua kali gencatan senjata sebelumnya gagal bertahan.
Menurut data pasar, lonjakan harga Bitcoin kali ini didorong oleh short squeeze—ketika trader yang memprediksi penurunan harga terpaksa membeli aset untuk menutup posisi mereka. Namun, beberapa analis meragukan reli ini akan bertahan lama. "Ini hanya reli sesaat," kata seorang trader anonim di Decrypt, menunjuk pada catatan sebelumnya di bulan April dan Juni ketika harga BTC langsung anjlok setelah gencatan senjata gagal.
📖 Baca Juga
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah keputusan suku bunga The Fed dan Bank of Japan (BOJ) minggu ini. BOJ khususnya menjadi sorotan karena posisi short yen mencapai level tertinggi dalam sembilan tahun. Jika BOJ mengejutkan pasar dengan kebijakan moneter yang lebih ketat, hal ini bisa memicu likuidasi besar-besaran pada carry trade berbasis yen—yang selama ini menjadi pendukung aset berisiko termasuk kripto.
Bagi investor Indonesia, momentum ini bisa menjadi peluang trading jangka pendek, tetapi perlu diingat bahwa volatilitas Bitcoin masih sangat tinggi. "Jangan terjebak FOMO," pesan WarungWeb3. "Pantau perkembangan geopolitik dan kebijakan bank sentral minggu ini karena keduanya akan menjadi katalis utama pergerakan harga."
Outlook: Pasar kripto tetap rentan terhadap gejolak geopolitik dan kebijakan moneter global. Trader disarankan mempertimbangkan manajemen risiko yang ketat sambil memantau perkembangan dari The Fed dan BOJ dalam beberapa hari ke depan.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.