
Pemilih Amerika Serikat masih memilih bank tradisional ketimbang crypto, sambil menyoroti ketidakpercayaan terhadap AI dan regulasi pemerintah.
Hasil survei terbaru dari CoinDesk dan Politico mengungkap sentimen negatif warga Amerika Serikat terhadap aset kripto dan kecerdasan buatan (AI). Lebih dari 1.000 responden terdaftar sebagai pemilih menunjukkan ketidaknyamanan mereka dengan industri ini, bahkan di tengah gempuran dana super PAC (komite aksi politik) yang mendorong adopsi teknologi tersebut.
Mayoritas responden masih mengandalkan bank tradisional untuk akses keuangan, menganggap crypto sebagai "kekuatan negatif" bagi ekonomi. Pandangan serupa muncul untuk AI, yang dianggap berpotensi disruptif tanpa regulasi memadai. "Masyarakat ingin pemerintah menjaga jarak dari kepentingan finansial di sektor ini," tulis laporan CoinDesk, merujuk pada skeptisisme terhadap administrasi Trump dalam mengawasi industri.
๐ Baca Juga
Fenomena ini menarik diamati dari lensa Indonesia, di mana minat pada DeFi dan staking justru meningkat meski regulasi belum jelas. Perbedaan persepsi ini mungkin dipengaruhi faktor edukasi dan exposure โ sementara media AS kerap menyoroti scam NFT atau kolapsnya platform crypto, komunitas Web3 Indonesia lebih fokus pada peluang ekonomi digital.
Survei tersebut juga menjadi warning bagi proyek blockchain dan AI: tanpa transparansi dan solusi riil untuk masalah sehari-hari, adopsi massal akan sulit tercapai. "Industri perlu membuktikan bahwa teknologi ini bukan sekadar tren spekulatif," kata salah satu analis yang dikutip dalam laporan.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI โ Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.