
Pejabat privasi Divisi Hak Sipil Departemen Kehakiman AS mengundurkan diri menyusul rencana pembagian data pemilih yang sensitif ke Departemen Keamanan Dalam Negeri.
Pejabat privasi Divisi Hak Sipil Departemen Kehakiman AS (DOJ) baru-baru ini mengundurkan diri secara diam-diam. Langkah ini terjadi menjelang rencana DOJ untuk membagikan data pemilih yang sensitif, termasuk sebagian nomor Jaminan Sosial (Social Security Number/SSN) dan nomor SIM, kepada Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS).
Keputusan DOJ ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait privasi dan keamanan data warga Amerika. Meski belum ada pernyataan resmi dari DOJ mengenai alasan pengunduran diri pejabat tersebut, banyak pihak menduga bahwa hal ini terkait dengan ketidaksetujuan internal terhadap kebijakan pembagian data yang dinilai berisiko tinggi.
Rencana pembagian data ini juga menuai kritik dari para aktivis privasi dan organisasi hak sipil. Mereka menilai bahwa langkah tersebut dapat membuka pintu bagi penyalahgunaan informasi pribadi, terutama dalam konteks pengawasan yang semakin ketat oleh pemerintah.
Di tengah meningkatnya isu privasi di era digital, keputusan DOJ ini menjadi sorotan publik. Banyak yang mempertanyakan apakah langkah tersebut sejalan dengan prinsip perlindungan data dan hak sipil warga. Sementara itu, DHS belum memberikan tanggapan resmi terkait rencana penerimaan data tersebut.
Kasus ini mengingatkan kita akan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan data sensitif, terutama yang berkaitan dengan identitas warga. Tanpa mekanisme yang jelas, kebijakan seperti ini berpotensi menimbulkan dampak negatif yang luas terhadap kepercayaan publik.