
Indeks Dolar AS (DXY) terus melemah di bawah level psikologis 100.00, didorong oleh komentar mengejutkan dari mantan Presiden Donald Trump yang meningkatkan apresiasi risiko global.
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama, terus bertahan di bawah level psikologis 100.00. Pelemahan ini terjadi setelah serangkaian pernyataan publik dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dianggap oleh analis sebagai pemicu meningkatnya apresiasi risiko global. Hal ini mengurangi daya tarik dolar sebagai aset safe-haven tradisional.
Penurunan DXY di bawah 100.00 menjadi ambang batas teknis dan psikologis penting bagi para trader mata uang. Para pelaku pasar kini memantau level support yang belum terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Indeks ini, yang sangat dipengaruhi oleh Euro (EUR), Yen Jepang (JPY), dan Poundsterling Inggris (GBP), mencerminkan aliran modal global. Secara spesifik, DXY yang lebih rendah sering kali menandakan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan global, mendorong aliran modal ke aset berisiko dengan imbal hasil lebih tinggi di luar Amerika Serikat.
Secara historis, level 100.00 selalu menjadi titik balik penting. Misalnya, penurunan di bawah level ini pada siklus sebelumnya sering kali diikuti oleh periode pelemahan dolar yang berkepanjangan. Data pasar opsi saat ini juga menunjukkan kecenderungan terhadap pelemahan dolar lebih lanjut, dengan volume put option yang meningkat signifikan. Perubahan sentimen ini secara langsung terkait dengan persepsi baru terhadap stabilitas geopolitik dan ekonomi global.
Komentar Trump, yang disampaikan dalam pidato kebijakan besar, fokus pada de-eskalasi perdagangan dan kerangka potensial untuk kerjasama internasional. Analis pasar langsung mengurai implikasi bahasanya terhadap ketegangan perdagangan global dan pertumbuhan ekonomi. Yang mencolok, nada pidatonya dianggap kurang konfrontatif dari yang diperkirakan, mengurangi kekhawatiran pasar dan meningkatkan optimisme terhadap risiko global. Hal ini semakin memperkuat tren pelemahan dolar AS dalam beberapa waktu terakhir.