
Circle sukses mengumpulkan pendanaan besar untuk Arc, sementara TeraWulf menghadapi kerugian meski pendapatan AI-nya melampaui Bitcoin mining.
Circle, perusahaan di balik stablecoin USDC, berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar $222 juta untuk proyek blockchain Arc-nya. Pendanaan ini menempatkan valuasi Arc pada angka $3 miliar, dengan dukungan dari raksasa keuangan seperti BlackRock, Apollo, dan Bullish. Pencapaian ini datang di tengah laporan keuangan Q1 yang melebihi estimasi laba, meski sedikit meleset dari target pendapatan.
Di sisi lain, TeraWulf, perusahaan Bitcoin mining yang juga mengoperasikan pusat data, melaporkan kerugian bersih mencapai $427 juta pada kuartal pertama tahun ini. Yang menarik, pendapatan dari layanan komputasi AI mereka justru melampaui pendapatan dari aktivitas Bitcoin mining. Ini menandai pergeseran strategi di tengah tantangan industri crypto yang fluktuatif.
📖 Baca Juga
Kedua laporan ini mencerminkan dinamika berbeda di ekosistem Web3. Circle dengan Arc-nya menunjukkan kepercayaan investor terhadap infrastruktur blockchain, sementara TeraWulf memilih diversifikasi ke AI sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar crypto. Bagi investor Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi sinyal untuk mempertimbangkan aset digital berbasis infrastruktur dan proyek yang memiliki diversifikasi pendapatan.
Ke depan, pasar mungkin akan melihat lebih banyak proyek crypto yang mengadopsi pendekatan hybrid seperti TeraWulf, atau fokus pada pengembangan infrastruktur seperti Circle. Kedua strategi ini muncul sebagai respons terhadap tantangan regulasi dan volatilitas pasar yang semakin kompleks.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.