
Laporan Bernstein menyebut Bitcoin tetap menjadi aset penyimpan nilai jangka panjang meski arus masuk melambat akibat demam AI.
Bitcoin menunjukkan ketahanan sebagai aset penyimpan nilai meskipun arus masuk modal melambat secara signifikan pada 2026. Menurut laporan terbaru Bernstein, hal ini disebabkan oleh pergeseran minat investor ke sektor AI yang sedang booming. Namun, diversifikasi kepemilikan Bitcoin justru memperkuat thesis jangka panjangnya.
"Bitcoin mungkin terlihat membosankan bagi investor ritel yang tergoda potensi AI," tulis analis Bernstein, "tetapi penurunan harga 50% dari puncaknya mencerminkan aset yang matang, bukan sekarat." Mereka memprediksi harga Bitcoin masih bisa mencapai $150.000 tahun ini.
📖 Baca Juga
Di pasar kripto Indonesia, tren ini diamati dengan cermat. Banyak investor lokal yang mulai mengalokasikan portofolio ke aset digital berbasis AI, tapi tetap mempertahankan Bitcoin sebagai inti investasi. "Bitcoin adalah pondasi, sementara AI dan DeFi adalah eksplorasi," jelas Andi, seorang trader di Jakarta.
Para ahli menekankan bahwa volatilitas Bitcoin saat ini adalah bagian normal dari siklus pasar. Dengan adopsi institusional yang terus meningkat dan persediaan terbatas, Bitcoin dipandang tetap relevan di era AI sekalipun. Investor disarankan untuk tetap diversifikasi dan tidak terjebak FOMO.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.