
Harga Bitcoin melambung di atas $75.000 meski ada indikasi tekanan jangka pendek. Apa artinya bagi trader lokal?
Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan volatilitas khasnya dengan menembus level $75.000 dalam beberapa hari terakhir, meski diiringi sinyal pasar yang kontradiktif. Data dari berbagai platform trading menunjukkan liquidasi mencapai $283 juta akibat short squeeze, sementara funding rate futures justru tetap negatif - fenomena langka yang memicu pertanyaan tentang kekuatan rally ini.
Analisis CoinTelegraph mengungkap bahwa meski harga BTC naik, permintaan di spot market ternyata belum cukup kuat untuk mempertahankan momentum bullish. Ini terlihat dari funding rate yang tetap negatif meski harga sudah rebound, indikasi bahwa banyak trader masih bertaruh pada penurunan harga. "Ini seperti perlombaan antara liquidasi forced dan keyakinan bearish," jelas seorang analis WarungWeb3.
📖 Baca Juga
Uniknya, data historis dari CoinDesk justru memberikan sinyal optimis. Episode funding rate negatif sebelumnya seringkali menjadi penanda bottom lokal sebelum rally berikutnya. "Pola ini mirip dengan Desember 2023 saat BTC membentuk dasar sebelum melesat ke ATH," tambah analis kami. Ethereum dan aset kripto lain seperti AAVE justru menunjukkan kinerja kurang menggembirakan dengan penurunan 1-1.3%.
Bagi trader Indonesia, situasi ini menawarkan peluang sekaligus risiko. Volatilitas tinggi bisa dimanfaatkan untuk swing trading, tapi kurangnya permintaan spot mengindikasikan kenaikan saat ini mungkin belum sepenuhnya sustainable. "Pantau volume perdagangan di exchange lokal dan on-chain activity untuk konfirmasi lebih lanjut," saran tim riset WarungWeb3. Di tengah ketidakpastian global, aset kripto tetap menjadi magnet bagi investor yang mencari alternatif di luar pasar tradisional.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI — Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.