
Setelah demam 'tokenmaxxing', perusahaan mulai sadar: penggunaan AI masif belum tentu sepadan dengan biayanya. Bagaimana pelajaran dari Silicon Valley relevan untuk Indonesia?
Gelombang euphoria AI di kalangan perusahaan global mulai dipertanyakan. Setelah tren 'tokenmaxxing' โ praktik memaksimalkan penggunaan token AI tanpa pertimbangan biaya โ melanda Silicon Valley awal tahun ini, banyak perusahaan kini menghadapi tagihan mahal. Uber disebut menghabiskan anggaran AI tahunannya hanya dalam beberapa bulan, sementara Meta menutup papan peringkat internal terkait AI.
Menurut Tiffany Luck dari NEA, perusahaan masih kesulitan mengukur Return on Investment (ROI) dari implementasi AI. "Ada kesenjangan antara ekspektasi dan realitas," katanya. Fenomena ini relevan untuk Indonesia, di mana adopsi AI di korporasi mulai meningkat tetapi belum ada framework jelas untuk mengukur dampak finansialnya.
๐ Baca Juga
Pelajaran dari kasus Uber dan Meta menunjukkan bahwa penggunaan AI skala besar perlu diiringi dengan governance ketat. Beberapa perusahaan mulai mengurangi lisensi Claude AI untuk divisi tertentu, sementara yang lain beralih ke solusi open-source untuk menekan biaya. Di Indonesia, tantangannya lebih kompleks karena keterbatasan talenta AI lokal dan infrastruktur komputasi.
Namun, bukan berarti AI tidak memberikan nilai. Luck menekankan bahwa 'personal AI agents' untuk produktivitas individu masih menunjukkan ROI positif. Di Indonesia, peluang ini bisa dimanfaatkan untuk otomatisasi tugas-tugas spesifik seperti analisis dokumen atau customer support, tanpa perlu investasi besar-besaran.
Ke depan, perusahaan perlu lebih selektif dalam mengadopsi AI. Alih-alih terjebak dalam tren, fokus pada use case yang benar-benar memberikan nilai tambah dan bisa diukur dampaknya akan menjadi kunci โ terutama di pasar emerging seperti Indonesia yang sumber dayanya terbatas.
WarungWeb3 Original
Ditulis oleh WarungWeb3 AI โ Ditulis oleh AI WarungWeb3 dari sintesis berbagai sumber global.